Sectarian Translation of the Qur’an in Indonesia: The Case of the Ahmadiyya

Sectarian Translation of the Qur’an in Indonesia: The Case of the Ahmadiyya
复制标题

印度尼西亚《古兰经》的宗派翻译:艾哈迈迪派的案例

DOI:
--
复制
发表时间:
2015
期刊:
影响因子:
--
通讯作者:
A. Burhani
A. Burhani
中科院分区:
--
文献类型:
--
作者:
A. Burhani

文献摘要

被引文献

相似文献

与逊尼派穆斯林的翻译相比,Ahmadiyya翻译的古兰经有一些鲜明的特点。然而,这些译本,特别是穆罕默德·阿里的《古兰经》的苏多沃荷兰语译本,在20世纪上半叶的印尼逊尼派社区中产生了影响。反对穆斯林兄弟会的反对和埃及穆罕默德·拉希德·里达禁止使用艾哈迈迪亚的翻译的法特瓦,在荷兰接受教育的知识分子广泛使用Soedewo-荷兰语翻译,作为了解伊斯兰教的主要来源。这篇文章专门回答了以下问题:为什么艾哈迈迪亚的古兰经译本在印度尼西亚占有重要地位?这些译本对印尼知识分子的吸引力是什么?这些译本对这个国家的古兰经研究有何贡献?本文认为,艾哈迈迪亚的译本,尤其是荷兰文译本在革命时期的成功有三个原因:语言(荷兰语是知识分子的语言)、内容(适合寻求宗教与湿地和谐理解的知识分子的需要)和形式(唯一可用的现代出版形式的古兰经译本)。在意识形态的背景下,穆斯林知识分子的接受主要是因为他们通过强烈挑战他们的教义,为捍卫伊斯兰教免受基督教传教的渗透和反宗教意识形态,特别是唯物主义和无神论的到来做出了贡献。英文名:Terjemah al-Quran Versi Ahmadiyah Memiliki beberapa Karakteristik Yang berbeda jika diband ingkan dengan terjemah versi宋体,terjemah seperti di atas,kHususnya terjemah al-Quran dalam halasa belasa Belanda-bahasakan Dari the StorQur‘ān Karya Muhammad Ali Oleh Soedowo-cukup berengareh di masya akat穆斯林Pada Uu pertama Abadke-20.伊斯兰穆罕默德·拉希德·里达·杨·梅拉朗·彭古纳阿·特杰马·费尔西·阿赫马迪亚,泰杰姆哈·苏德沃·尼·朱斯特鲁·门贾迪·鲁朱坎·巴吉·卡兰甘·特迪克·恩图克·迈马哈米·伊斯兰。Tulisan ini secara khurus menjwab pertanyaan:Mengapa terjemah al-Quran Versi Ahmadiyyah ini cukup berpengareh di印度尼西亚,apa Yang menarik dari tterjemah ini bagi mereka,serta apa Sumbangan ptemkiran terjemah ini pada perkembangan keilmuan al-Quran di Negeri ini.Menurut penulis,terjemah Versi Ahmadiyyah,kHususnya Yang berbahasa Belanda,mengalami kes ukukesan pada masa Revolusi dipengaruhi Oleh Tiga Hal:(1)engasa Belanda和YYang dipakai adalah halasa kalangan terdia,is inya esuai dengan kebutuhan kalangan terpelajar Yang ingingin Mencari pemahaman an chengetauan,Dan(3)terjemah merupakan-satunya bentuk public asi asi Dari-quan terjemah al-Quran Yang pada masa ITU。Dalam konteks意识形态,penerimaan kaum intelektual ini terutama terkait dengan upaya perlawanan伊斯兰教terhadap tekanan misi Kristen Dan masuknya意识形态-意识形态反阿加马,kHususnya物质化dan atheisme。]
Ahmadiyya’s translations of the Quran have some distinctive characteristics compared to the translations from Sunni Muslims. However, these translations, particularly Soedowo-Dutch translation of Muhammad Ali’s The Holy Quran, have been influential in Indonesian Sunni community in the first half of the 20th century. Against the opposition from the Muhammadiyah and the fatwa from Muhammad Rashid Rida of Egypt, which prohibited the use of Ahmadiyya’s translation, the Soedewo-Dutch translation was widely used by Dutch-educated intelligentsia as a main source to know about Islam. This article specifically answers the following questions: Why did Ahmadiyya’s translations of the Quran have a significant place in Indonesia? What was the appeal of these translations to Indonesian intelligentsia? What is the contribution of these translations to the study of the Quran in this country? This paper argues that the success of Ahmadiyya’s translation, particularly the Dutch version, during the revolution era is based on three reasons: language (Dutch is the language of intelligentsia), content (which fit with the need of intelligentsia who seek a harmonious understanding between religie and wetenschap), and form (the only available rendering of the Quran in modern form of publication). In the context of ideology, the reception of Muslim intelligentsia was mainly for their contribution in defending Islam against the penetration of Christian mission and the coming of anti-religion ideologies, particularly materialism and atheism, by strongly challenging their doctrines. [Terjemah al-Quran versi Ahmadiyah memiliki beberapa karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan terjemah versi Islam sunni pada umumnya.  Namun demikian, terjemah seperti di atas, khususnya terjemah al-Quran dalam bahasa Belanda --yang dialih-bahasakan dari The Holy Qur’ān karya Muhammad Ali oleh Soedowo-- cukup berpengaruh di masyarakat muslim Indonesia pada paruh pertama abad ke-20. Bertentagan dengan fatwa dari Muhammadiyah maupun dari Muhammad Rashid Rida yang melarang penggunaan terjemah versi Ahmadiyyah, terjemha Soedewo ini justru menjadi rujukan bagi kalangan terdidik untuk memahami Islam. Tulisan ini secara khusus menjawab pertanyaan: mengapa terjemah al-Quran versi Ahmadiyyah ini cukup berpengaruh di Indonesia, apa yang menarik dari tterjemah ini bagi mereka, serta apa sumbangan pemikiran terjemah ini pada perkembangan keilmuan al-Quran di negeri ini. Menurut penulis, terjemah versi Ahmadiyyah, khususnya yang berbahasa Belanda, mengalami kesuksesan pada masa revolusi dipengaruhi oleh tiga hal: (1) bahasa Belanda  yyang dipakai adalah bahasa kalangan terdidik, (2) isinya sesuai dengan kebutuhan kalangan terpelajar yang ingin mencari pemahaman yang harmonis antara agama dan ilmu pengetahuan, dan (3) terjemah ini merupakan satu-satunya bentuk publikasi modern dari terjemah al-Quran yang ada pada masa itu. Dalam konteks ideologi, penerimaan kaum intelektual ini terutama terkait dengan upaya perlawanan Islam terhadap tekanan misi Kristen dan masuknya ideologi-ideologi anti agama, khususnya materialisme dan atheisme.]