Kontestasi Identitas di Media Sosial (Diskursus tentang Karakter dan Bahasa Banyumas di Weblog, Twitter dan Facebook)
Kontestasi Identitas di Media Sosial (Diskursus tentang Karakter dan Bahasa Banyumas di Weblog, Twitter dan Facebook)
复制标题
Kontestasi Identitas di Media Sosial(Diskursus tentang Karakter dan Bahasa Banyumas di Weblog、Twitter dan Facebook)
DOI:
10.25008/pknk.v1i1.29
复制
发表时间:
2017
期刊:
影响因子:
--
通讯作者:
Edi Santoso
中科院分区:
文献类型:
--
作者:
Edi Santoso
Media sosial telah menjadi ranah baru bagi berbagai komunitas untuk menegaskan identitasnya, termasuk komunitas Banyumas. Dengan latar belakang historis yang unik, identitas Banyumas kini menjadi ‘resistance identity’, melawan identitas Jawa yang dominan (legitimizing identity). Sebagai sebuah ikhtiar untuk diterima secara luas, identitas Banyumas juga bisa disebut telah menjadi ‘project identity. Melalui media sosial seperti blog, Twitter, dan Facebook, sebagian warganet menggugat stereotype orang Banyumas sebagai komunitas pinggiran, lucu dan konyol. Mereka juga mengkritik penggunaan istilah ‘ngapak’ untuk menandai bahasa sehari-hari yang dipakai orang Banyumas. Kedua hal ini telah melekat erat dalam benak orang dan mendapat dukungan termasuk dari orang Banyumas sendiri. Dalam istilah Bourdieau, hal ini telah menjadi doxa (keyakinan umum) dan mendapat dukungan luas dari masyarakat ( ortodoxa ). Dengan metode kualitatif, melalui penggalian data dengan analisis isi terhadap beberapa akun media sosial orang Banyumas dan wawancara mendalam dengan pengamat dan pengguna media sosial (warganet), ditemukan gejala perlawanan terhadap realitas tersebut ( heterodoxa ). Media sosial telah menjadi ruang kontestasi identitas, yakni antara identitas Banyumas yang merasa terpinggirkan dengan identitas Jawa wetan (Yogya-Solo) yang dominan.